Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan sebuah inovasi sangat bergantung pada komitmen seluruh jajaran organisasi untuk menjalankannya secara konsisten.
“SITAKO harus menjadi inovasi yang hidup, bukan hanya berhenti sebagai dokumen atau program pada saat pelaksanaan Diklat. Setelah selesai, kita berharap inovasi ini dapat diterapkan dan dikembangkan sesuai kebutuhan organisasi serta tuntutan pelayanan publik,” tegas Zulkifli.
Lebih lanjut, ia mengatakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tidore Kepulauan akan terus membuka ruang terhadap berbagai gagasan baru yang dapat memperkuat kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, transformasi pelayanan publik membutuhkan keberanian untuk melakukan pembenahan dari dalam organisasi. Karena itu, setiap inovasi yang memiliki tujuan memperbaiki sistem pelayanan harus mendapatkan dukungan dan dikawal bersama.
“Saya berharap seluruh jajaran dapat memberikan dukungan terhadap implementasi SITAKO. Kita ingin membangun pelayanan yang semakin baik, profesional dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Ukuran keberhasilan kita bukan hanya dari sisi administrasi, tetapi sejauh mana masyarakat merasakan perubahan dan kemudahan dalam mendapatkan layanan,” pungkasnya.
Melalui implementasi SITAKO, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tidore Kepulauan diharapkan mampu memperkuat tata kelola layanan sekaligus menghadirkan perpustakaan sebagai ruang publik yang semakin inklusif, nyaman dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Aksi perubahan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat informasi, literasi, edukasi dan ruang interaksi masyarakat di Kota Tidore Kepulauan.
***


Tinggalkan Balasan