Oleh : Kurnia Utami

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi

Setiap hari, hampir sebagian manusia membuka ponsel dan menatap layar yang memancarkan potongan-potongan kehidupan orang lain, seperti liburan yang tampak sempurna, tubuh yang tampak ideal, karier yang tampak selalu menanjak.

Yang lebih menarik lagi, semakin sering kita menatap layar itu, semakin sering pula kita bertanya pada diri sendir, mengapa hidup saya tidak seperti itu? Pertanyaan sederhana ini, jika ditelusuri lebih jauh, sesungguhnya menyimpan persoalan filosofis yang serius tentang bagaimana manusia modern kehilangan pijakan atas dirinya sendiri di tengah derasnya arus komunikasi digital.

Media sosial, yang semula hadir sebagai ruang untuk terhubung, kini justru menjelma menjadi panggung perbandingan tanpa akhir yang menekan kesehatan jiwa penggunanya. Melalui lensa filsafat sosial-kritis, tulisan ini hendak menunjukkan bahwa standar hidup “Ideal” yang dipertontonkan di media sosial bukan sekadar gaya hidup, melainkan mekanisme kekuasaan dan citra semu yang secara sistemik merongrong kesehatan mental manusia.

Fenomena ini bukan isapan jempol belaka, berbagai laporan kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir mencatat peningkatan keluhan kecemasan, rendah diri, dan gangguan citra tubuh di kalangan remaja dan dewasa muda, dengan intensitas penggunaan media sosial kerap disebut sebagai salah satu faktor yang memperberatnya.

Bahkan fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jiwa hari ini tidak bisa lagi dilihat semata sebagai urusan biologis atau psikologis individu, melainkan juga sebagai akibat dari struktur komunikasi dan budaya visual yang membentuk cara manusia memandang dirinya sendiri. Dari sinilah filsafat sosial kritis menjadi alat yang relevan untuk membedah persoalan tersebut secara lebih mendalam.

Seperti yang dikutip penulis salah satu Sosiolog sekaligus Filsuf asal Prancis, Michel Foucault, pernah menjelaskan bagaimana kekuasaan modern tidak lagi bekerja lewat hukuman fisik, melainkan lewat pengawasan yang membuat manusia mendisiplinkan dirinya sendiri.

Konsepnya tentang panoptisisme ini awalnya berbicara soal penjara, tetapi gagasan itu terasa sangat relevan hari ini. Di media sosial, kita semua menjadi pengawas sekaligus yang diawasi. Setiap unggahan dinilai lewat jumlah like dan komentar, dan tanpa sadar kita mulai menata hidup bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk “dilihat baik” oleh orang lain.

Foucault menyebut proses ini sebagai normalisasi, yakni ketika standar tertentu perlahan dianggap wajar dan siapa pun yang tidak memenuhinya merasa bersalah atau kurang. Di sinilah akar dari rasa cemas dan minder yang banyak dialami generasi muda hari ini: bukan karena hidup mereka benar-benar buruk, tetapi karena mereka merasa terus-menerus diawasi oleh standar yang mereka bentuk sendiri lewat layar.

Persoalan ini semakin rumit jika dibaca lewat pemikiran Jean Baudrillard tentang simulacra dan hiperrealitas. Menurut Baudrillard, dunia modern dipenuhi oleh citra yang tidak lagi merujuk pada kenyataan, melainkan menciptakan kenyataannya sendiri yang lebih “nyata” dari yang asli.

Foto liburan yang diedit, potret keluarga yang tampak selalu bahagia, atau highlight pencapaian karier adalah representasi yang telah dipoles sedemikian rupa sehingga penonton lupa bahwa itu bukan potret utuh kehidupan.

Ironisnya, banyak orang justru membandingkan realitas hidupnya yang penuh keluhan dan kelelahan dengan citra semu tersebut, seolah citra itulah standar kenormalan yang harus dicapai.

Ketika jarak antara realitas dan citra ini semakin lebar, muncul apa yang oleh para ahli kesehatan mental disebut sebagai kelelahan sosial digital, sebuah kondisi ketika seseorang merasa tidak pernah cukup baik meski secara objektif hidupnya baik-baik saja.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, gejala ini bisa dijelaskan lewat teori perbandingan sosial yang diperkenalkan Leon Festinger, yang menyatakan bahwa manusia secara alami menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain, terutama ketika tidak ada tolok ukur objektif.

Media sosial memperparah kecenderungan ini karena menyajikan perbandingan yang sangat masif, konstan, dan bias ke arah pencitraan positif. Erving Goffman, dalam teorinya tentang dramaturgi, menambahkan bahwa manusia pada dasarnya selalu “bermain peran” di depan orang lain, memisahkan antara panggung depan yang ditampilkan dan panggung belakang yang disembunyikan.

Media sosial mengubah panggung depan ini menjadi pertunjukan yang berlangsung tanpa jeda, sehingga batas antara “menjadi diri sendiri” dan “menjadi apa yang ingin dilihat orang lain” semakin kabur. Ketika panggung depan itu dipaksakan terus-menerus, kelelahan psikologis pun menjadi keniscayaan.

Persoalan ini sesungguhnya bukan hanya urusan individu yang harus “lebih kuat mental” atau “lebih pandai bersyukur”, sebagaimana sering disederhanakan oleh nasihat populer. Filsafat sosial-kritis mengajarkan bahwa penderitaan semacam ini bersifat struktural, lahir dari sistem media dan budaya visual yang memang dirancang untuk memacu perbandingan dan konsumsi tanpa henti.

Oleh sebab itu, solusi yang ditawarkan juga tidak bisa berhenti pada anjuran personal seperti mengurangi waktu bermain gawai, meskipun langkah itu tetap penting. Yang lebih mendesak adalah membangun kesadaran kritis kolektif, yakni kemampuan masyarakat untuk membaca media sebagai konstruksi, bukan cerminan realitas apa adanya.

Literasi media yang kritis semestinya menjadi bagian dari pendidikan sejak dini, agar generasi mendatang tidak tumbuh dengan menjadikan citra sebagai patokan harga diri. Peran ini sesungguhnya sangat dekat dengan dunia komunikasi, sebab merekalah yang kelak berada di balik layar produksi konten, kebijakan platform, hingga kampanye kesehatan mental.

Ketika mahasiswa komunikasi memahami akar filosofis dari tekanan yang ditimbulkan media sosial, mereka tidak hanya menjadi produser konten yang kreatif, tetapi juga agen perubahan yang mampu mendorong ekosistem digital yang lebih sehat bagi kejiwaan penggunanya.

Pada akhirnya, filsafat mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah standar hidup ideal yang kita kejar benar-benar milik kita, atau sekadar pantulan dari layar yang terus menyala? Kesehatan jiwa manusia modern tidak akan pulih hanya dengan menutup aplikasi media sosial, melainkan dengan mengembalikan kemampuan berpikir kritis atas realitas yang ditampilkan kepada kita.

Sebagai calon insan komunikasi, tugas kita bukan sekadar memproduksi konten, tetapi turut bertanggung jawab menciptakan ruang digital yang lebih jujur, lebih manusiawi, dan tidak mengorbankan kewarasan demi validasi semu.

***

Fikram Sabar
Editor
Mimbar Malut
Reporter