Oleh : Dita Amelia Bahmid
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi
Eksistensi manusia tidak pernah terlepas dari keterikatannya dengan ruang sosial dan budaya. Sejak lahir, seseorang individu telah berada dalam suatu sistem masyarakat yang memiliki norma, nilai, tradisi, dan pola interaksi tertentu. Keseluruhan unsur tersebut membentuk cara manusia berpikir, bertindak, dan memaknai kehidupannya.
Oleh karena itu, realitas sosial dan budaya bukan sekadar fenomena yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, melainkan suatu proses yang terus berkembang melalui hubungan antarmanusia.
Dalam perspektif filsafat sosial, realitas tidak dipahami sebagai sesuatu yang bersifat tetap, melainkan sebagai hasil interaksi yang berlangsung secara terus-menerus. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa realitas sosial merupakan hasil konstruksi manusia melalui proses eksternalisasi, objektifikasi, dan internalisasi.
Dengan demikian, manusia bukan hanya hidup di dalam masyarakat, tetapi juga berperan sebagai pencipta sekaligus produk dari realitas sosial yang dibangunnya.
Realitas sosial merupakan hasil dari berbagai tindakan, pengalaman, dan interaksi manusia dalam kehidupan bersama. Hubungan sosial, norma, serta lembaga kemasyarakatan terbentuk melalui proses yang berlangsung secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, kehidupan sosial tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memberikan makna terhadap lingkungan di sekitarnya.
Budaya memiliki kedudukan yang sangat penting dalam membentuk identitas masyarakat. Menurut Clifford Geertz, budaya merupakan sistem makna yang diwariskan melalui simbol-simbol sehingga menjadi pedoman bagi manusia dalam memahami dan menjalani kehidupannya.
Dengan demikian, budaya bukan hanya tradisi atau kebiasaan, melainkan juga cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang berkembang dalam suatu komunitas.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan arus globalisasi membawa perubahan yang signifikan terhadap realitas sosial dan budaya. Kemudahan akses informasi mempercepat pertukaran nilai dan gaya hidup. Di satu sisi, perubahan tersebut membuka peluang bagi kemajuan masyarakat.
Namun, di sisi lain, perubahan yang tidak disertai kemampuan berpikir kritis dapat mengurangi penghargaan terhadap nilai-nilai budaya lokal yang selama ini menjadi identitas bangsa.


Tinggalkan Balasan