Penulis menilai, perubahan sosial dan budaya merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Namun, perubahan tersebut seharusnya tidak menghilangkan jati diri bangsa. Fenomena penggunaan media sosial, misalnya, memperlihatkan bahwa masyarakat semakin mudah memperoleh informasi dan berkomunikasi.
Namun demikian, penyebaran informasi yang tidak disaring juga memunculkan berbagai persoalan, seperti hoaks, ujaran kebencian, dan menurunnya etika dalam berinteraksi.
Dalam konteks eksternal lain misalnya di Indonesia, tantangan tersebut menunjukkan pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pelestarian nilai budaya. Nilai gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman harus tetap dipertahankan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Filsafat mengajarkan bahwa setiap perubahan perlu dikaji secara kritis agar manusia tidak sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi mampu memahami makna serta dampaknya bagi kehidupan bersama.
Realitas sosial dan budaya merupakan hasil interaksi manusia yang terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Pandangan Peter L. Berger menegaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses konstruksi sosial, sedangkan Clifford Geertz menunjukkan bahwa budaya merupakan sistem makna yang memberi arah bagi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, masyarakat perlu bersikap terbuka terhadap perubahan tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan. Dengan pendekatan filsafat, manusia mampu memahami realitas secara lebih kritis, reflektif, dan bertanggung jawab sehingga kemajuan yang dicapai tetap selaras dengan identitas serta nilai luhur masyarakat.
***


Tinggalkan Balasan