Jika demikian, maka tinjauan lain dalam konteks ini adalah menghargai akal dan pemikiran manusia. Jika setiap manusia memiliki akal, maka setiap manusia juga memiliki hak untuk menggunakannya. Membatasi perempuan untuk berpikir atau belajar sama saja dengan mengabaikan salah satu potensi terbesar yang dimiliki manusia.

Karena sebuah masyarakat tidak akan berkembang apabila hanya memberikan kesempatan kepada sebagian warganya untuk berpikir dan berkarya. Selain itu, filsafat juga mengajarkan bahwa manusia merupakan makhluk yang selalu mencari makna kehidupan. Perempuan juga memiliki kemampuan untuk mempertanyakan berbagai persoalan, mencari solusi, dan menghasilkan pemikiran yang bermanfaat bagi masyarakat.

Di era modern seperti sekarang, pandangan terhadap perempuan telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Banyak perempuan berhasil membuktikan bahwa mereka mampu menjadi ilmuwan, dosen, peneliti, hakim, dokter, pemimpin organisasi, maupun pemimpin negara. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesempatan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada jenis kelamin. Ketika perempuan memperoleh kesempatan belajar yang sama, mereka akan mampu menunjukkan kemampuan yang luar biasa.

Pembahasan diatas tidak terlepas dari pentingnya memahami haluan berpikir layaknya seorang filsuf yang selalu memberikan pelajaran penting bahwa keadilan tidak berarti menyamakan semua orang secara mutlak, tetapi memberikan kesempatan yang sama kepada setiap individu untuk mengembangkan potensinya.

Dalam konteks perempuan misalnya, keadilan berarti memberikan ruang yang luas bagi mereka untuk belajar, berpikir, berkarya, serta berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.

Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan 

Pendidikan merupakan instrumen paling radikal dalam membongkar subordinasi perempuan karena mampu mengubah kesadaran personal sekaligus meruntuhkan struktur sosial yang opresif. Dalam kacamata filsafat kritis dan feminisme, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sebuah tindakan pembebasan.

Pendidikan juga merupakan salah satu sarana paling efektif untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketertinggalan, kebodohan, dan ketidakadilan. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir, karakter, serta kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, pendidikan memiliki arti yang sangat penting bagi perempuan.

Selama bertahun-tahun, banyak perempuan tidak memperoleh kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan. Faktor budaya, ekonomi, maupun tradisi sering menjadi penyebab utama mengapa perempuan lebih diprioritaskan untuk mengurus rumah tangga dibandingkan melanjutkan pendidikan.

Akibatnya, banyak perempuan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya. Penulis memandang, kondisi tersebut sangat disayangkan karena pendidikan merupakan hak setiap manusia. Ketika perempuan tidak mendapatkan kesempatan untik memperoleh pendidikan yang layak, bukan hanya perempuan yang dirugikan, tetapi juga keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Sebaliknya, ketika perempuan memperoleh pendidikan yang berkualitas, manfaatnya akan dirasakan oleh banyak pihak. Perempuan yang berpendidikan cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengambil keputusan, mengelola keuangan keluarga, mendidik anak, menjaga kesehatan keluarga, hingga berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Dengan demikian, pendidikan perempuan tidak hanya memberikan manfaat secara individu, tetapi juga menciptakan perubahan sosial yang lebih luas.

Sehingga pendidikan juga menjadi sarana bagi perempuan untuk mengenali potensi dirinya. Banyak perempuan yang sebenarnya memiliki bakat luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, teknologi, maupun kepemimpinan. Namun, tanpa pendidikan yang memadai, potensi tersebut sulit berkembang secara maksimal.

Fikram Sabar
Editor