Kepala BWS Malut M. Saleh Talib, melalui jajaran teknisnya memastikan penanganan di lapangan diarahkan pada kebutuhan masyarakat, khususnya dalam menghadapi kondisi darurat kekeringan yang berdampak terhadap sektor pertanian.

Dibandingkan hanya menunggu kondisi kekeringan semakin parah, langkah normalisasi dilakukan sebagai bentuk respons terhadap persoalan yang dihadapi petani.

“Penanganan pada saluran air menjadi salah satu langkah teknis untuk menjaga agar kebutuhan air bagi lahan pertanian tetap dapat diupayakan,” pungkasnya.

M. Saleh menuturkan, bagi masyarakat petani, ketersediaan air bukan sekadar persoalan teknis infrastruktur, tetapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan tanaman dan hasil produksi. Karena itu, normalisasi parit alam diharapkan dapat membantu mengurangi risiko terganggunya aktivitas pertanian akibat terbatasnya pasokan air.

“Penanganan di Desa Lembah Asri ini sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi dan respons cepat dalam menghadapi dampak kekeringan. Dengan sasaran lahan sekitar 20 hektare dan penerima manfaat sebanyak 38 petani, intervensi BWS Maluku Utara diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” terangya.

Normalisasi parit alam tersebut menjadi langkah konkret BWS Maluku Utara dalam mendukung kebutuhan air masyarakat, khususnya petani, sekaligus menjaga keberlangsungan lahan pertanian di tengah kondisi kekeringan yang terjadi di wilayah Weda Selatan, Halmahera Tengah.

“Kami tidak ingin persoalan kekeringan dibiarkan berlarut-larut hingga semakin berdampak terhadap petani. Karena itu, BWS Maluku Utara melakukan penanganan langsung melalui normalisasi parit alam agar aliran air dapat kembali terbuka dan dimanfaatkan untuk mengairi lahan sawah masyarakat. Sasaran kita jelas, membantu 20 hektare lahan dan 38 petani yang terdampak,” tutupnya.

***

Fikram Sabar
Editor
Fikram Sabar
Reporter