Workshop FAMM Indonesia akhirnya tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat advokasi berbasis pengalaman masyarakat.

Berbagai cerita dan temuan yang disampaikan menunjukkan bahwa dampak pertambangan terhadap perempuan memiliki dimensi yang luas mulai dari hilangnya sumber penghidupan, akses air bersih, perubahan lingkungan, kesehatan reproduksi, hingga persoalan sosial yang berpotensi mengancam kelompok perempuan dan anak.

Melalui pendekatan FPAR, FAMM Indonesia mendorong agar perempuan dan masyarakat terdampak tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga menjadi subjek yang memiliki suara dalam menentukan arah perubahan di wilayahnya sendiri.

Forum tersebut sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi antara masyarakat, komunitas perempuan, peneliti, pemerintah, media, dan berbagai pihak lainnya untuk memastikan persoalan yang muncul di wilayah lingkar pertambangan tidak berhenti sebagai cerita di ruang diskusi.

Sebab, di balik aktivitas ekonomi dan pertumbuhan industri, terdapat kehidupan masyarakat yang harus tetap dilindungi terutama perempuan dan anak yang berada di garis paling rentan terhadap dampak perubahan sosial dan lingkungan.

***

Fikram Sabar
Editor
Rifaldi Umafagur
Reporter