“Sekitar 40 persen pendapatan rumah sakit dialokasikan untuk jasa pelayanan tenaga kesehatan dan pegawai, sementara 60 persen lainnya digunakan untuk kebutuhan operasional rumah sakit. Keseimbangan ini penting agar pelayanan tetap berjalan optimal dan hak tenaga kesehatan tetap terpenuhi,” ujar Agung.

Selain pengelolaan Jaspel, RSUD Chasan Boesoirie juga memaparkan berbagai transformasi yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Mulai dari digitalisasi sistem pelayanan dan keuangan, peningkatan tata kelola organisasi, hingga upaya penyehatan kondisi keuangan rumah sakit yang dilakukan secara berkelanjutan.

Berbagai langkah tersebut menjadikan RSUD dr. H. Chasan Boesoirie sebagai salah satu contoh pengelolaan BLUD yang dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pelayanan kesehatan, kesejahteraan tenaga kesehatan, dan keberlanjutan keuangan rumah sakit.

Di akhir pertemuan, Munawir Bahar menyampaikan apresiasi atas keterbukaan manajemen RSUD dr. H. Chasan Boesoirie dalam berbagi pengalaman dan praktik pengelolaan rumah sakit.

“Banyak hal yang kami pelajari hari ini. Pengalaman RSUD Chasan Boesoirie akan menjadi bahan evaluasi dan referensi penting dalam mendorong perbaikan tata kelola BLUD serta penyelesaian persoalan Jaspel di RSUD Labuha,” pungkasnya.

Kegiatan konsultasi tersebut turut dihadiri para wakil direktur, pejabat struktural, dan unit terkait di lingkungan RSUD dr. H. Chasan Boesoirie.

Melalui forum ini, diharapkan tercipta sinergi dan pertukaran pengetahuan yang dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya di Kabupaten Halmahera Selatan.

***

Fikram Sabar
Editor
Fikram Sabar
Reporter