Mimbarmalut.id — Merespons meningkatnya persoalan sampah plastik di Kota Ternate, kaum muda Estuaria Maluku Utara menggelar “Aksi Untuk Bumi” dengan melakukan pembersihan kawasan Pantai Gambesi, Kota Ternate, Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian anak muda terhadap kondisi lingkungan, khususnya kawasan pesisir yang masih menghadapi persoalan penumpukan sampah plastik dan sampah kiriman.

Aksi lingkungan ini melibatkan sedikitnya 35 relawan yang berasal dari berbagai komunitas dan kalangan mahasiswa. Mereka di antaranya berasal dari Green Demokrasi Institute (GDI), Mapala Arsitek (Arsipala), mahasiswa Arsitektur Universitas Khairun (Unkhair), serta mahasiswa IAIN Ternate.

Koordinator Lapangan Aksi Untuk Bumi, Nadra, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan membersihkan kawasan pantai, tetapi juga menjadi upaya membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Menurutnya, persoalan sampah di Kota Ternate perlu mendapat perhatian serius karena volume sampah yang dihasilkan setiap hari cukup besar.

“Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya volume sampah di Kota Ternate yang mencapai sekitar 120 ton per hari. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini tentu dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan,” ujar Nadra.

 

Sampah di pantai Gambesi di bersihkan, relawan minta Pemkot Ternate fokus atasi persoalan sampah di Kota Ternate.

Ia menjelaskan, persoalan sampah di kawasan Pantai Gambesi memiliki karakteristik tersendiri. Sebagian sampah yang ditemukan di pesisir diduga terbawa aliran barangka atau drainase saat hujan, sementara sebagian lainnya merupakan sampah kiriman dari aktivitas transportasi laut.

“Sampah yang ada di Pantai Gambesi kebanyakan berasal dari sampah barangka yang hanyut melalui aliran drainase dan juga sampah kiriman dari transportasi laut. Ini bisa merusak karang, lamun yang menjadi rumah bagi ikan, serta ekosistem mangrove,” jelasnya.

Dalam aksi tersebut, para relawan berhasil mengumpulkan 52 karung sampah berukuran besar dari kawasan Pantai Gambesi. Sampah yang terkumpul selanjutnya dikoordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Jika dibandingkan dengan persoalan sampah Kota Ternate yang disebut mencapai sekitar 120 ton per hari, jumlah 52 karung yang dikumpulkan dalam satu kegiatan memang hanya merupakan bagian kecil dari persoalan secara keseluruhan. Namun, aksi tersebut menunjukkan bahwa penanganan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat dan komunitas secara langsung.

Nadra berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pemantik kesadaran masyarakat bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat memberikan dampak panjang terhadap lingkungan, terutama kawasan pesisir dan laut.

“Setelah melakukan Aksi Untuk Bumi ini, kami berharap masyarakat bisa sadar bahwa ketidaksadaran membuang sampah pada tempatnya dapat berakibat fatal dan membahayakan lingkungan, makhluk hidup, serta kita sendiri, terutama ekosistem laut,” katanya.

Ia menegaskan, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya persoalan estetika, tetapi berkaitan langsung dengan keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat di masa mendatang.

“Ketika kita menjaga alam, alam pun menjaga kita. Mari lestarikan alam ini agar kelak anak dan cucu kita masih bisa menikmatinya,” sambungnya.

Selain mengajak masyarakat untuk lebih disiplin dalam membuang sampah, Nadra juga meminta pemerintah memperkuat langkah penanganan sampah di Kota Ternate.

Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan edukasi sekaligus pengawasan terhadap masyarakat yang masih membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan.

“Pemerintah harus lebih keras dalam menangani persoalan sampah. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Kalau sampah memang harus dikumpulkan pada satu titik agar bisa diangkut mobil sampah, maka perlu diberikan arahan yang jelas dan pengawasan yang tegas,” pungkasnya.

Ia menilai, penerapan sanksi terhadap pelanggaran pembuangan sampah juga dapat dipertimbangkan sesuai aturan yang berlaku, sehingga terdapat efek jera dan masyarakat tidak menganggap persoalan sampah sebagai hal sepele.

Aksi Untuk Bumi di Pantai Gambesi pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan bersih-bersih sesaat. Para relawan mendorong agar kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi gerakan bersama dan dilakukan secara berkelanjutan.

Sebab, membersihkan 52 karung sampah dalam satu aksi dapat mengatasi sampah yang terlihat hari ini, tetapi perubahan perilaku masyarakat dan sistem pengelolaan sampah menjadi kunci agar persoalan serupa tidak terus berulang.

***

Fikram Sabar
Editor
Rifaldi Umafagur
Reporter