Dalam percakapan lain, Rasina bahkan mengklaim memiliki akses informasi internal terkait proses rekrutmen di lingkungan pemerintah.

“Kalau torang ini gerbong, jadi keluar masuk informasi semua torang tahu. Tim itu kecuali kaya torang, karena masih ada atasan-atasan. Wali kota tidak tahu itu,” kata Rasina dalam pesan WhatsApp.

Ia juga menyebut adanya kebutuhan dana tambahan untuk “tim” agar proses berjalan lancar.

“Keadaan ini bayar tim lagi. Kalau tidak pakai uang, separuh tim bisa datang marah di kantor wali kota,” tambahnya.

Nama lain yang turut disebut dalam kasus ini adalah Tanti, yang diduga ikut menerima aliran dana dari praktik penipuan tersebut. Selain itu, Rasina juga kerap membawa seseorang bernama Suratmi untuk meyakinkan korban.

Suratmi disebut-sebut sebagai contoh orang yang berhasil menjadi pegawai di Dinas Pendidikan Kota Ternate melalui bantuan Rasina.

Untuk memperkuat aksinya, Rasina bahkan sempat mengarahkan para korban ke sebuah tempat jahit di Kelurahan Ubo-Ubo, Kecamatan Ternate Selatan, untuk melakukan pengukuran pakaian dinas.

Korban yang percaya kemudian mengikuti arahan tersebut. Namun hingga kini, pakaian dinas yang dijanjikan tidak pernah ada, dan para korban mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Sebelumnya, kasus dugaan penipuan dengan modus rekrutmen ini telah dilaporkan oleh kuasa hukum para korban ke Polres Ternate pada Kamis, 9 April 2026. Sekedar diinformasikan, para korban masing-masing mengalami kerugian puluhan juta rupiah, yang jika ditotalkan secara keseluruhan mencapai ratusan juta rupiah.

Fikram Sabar
Editor
Fikram Sabar
Reporter