OLEH : HARMAWI ADE
Kasus mutilasi yang terjadi di Hutan Patani Barat oleh orang tak dikenal (OTK) kembali membuka luka lama masyarakat. Peristiwa ini seolah mengulang tragedi memilukan di Kali Gowonle, Hutan Damuli, Kecamatan Patani Timur pada tahun 2021 silam. Saat itu, tiga warga ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan dan tidak manusiawi.
Ironisnya, hingga hari ini, kasus tersebut belum juga terungkap. Tidak ada kejelasan tentang siapa pelaku, apalagi dalang di baliknya. Lebih dari itu, teror terhadap masyarakat tidak pernah benar-benar berhenti. Warga yang pergi ke kebun masih diliputi rasa takut yang terus menghantui.
Rentetan peristiwa ini terjadi lintas kepemimpinan daerah dari masa Bupati Edi Langkara hingga Bupati Ikram Malan Sangaji. Namun, pergantian kekuasaan tidak berbanding lurus dengan penyelesaian kasus. Selama bertahun-tahun, keadilan seolah tertimbun, seperti berkas usang yang dibiarkan menumpuk di meja penegak hukum.
Dampaknya sangat nyata. Sejak 2021 hingga sekarang, masyarakat Patani hidup dalam trauma mendalam. Hutan yang semestinya menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan justru berubah menjadi ruang ketakutan. Tempat orang menanam harapan kini menjadi tempat di mana nyawa dipertaruhkan.
Dari tragedi pembantaian di Patani Timur hingga peristiwa terbaru di Patani Barat, ada satu benang merah yang sulit diabaikan: lemahnya keseriusan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan lembaga terkait dalam menangani kasus ini. Pembiaran yang berlarut-larut justru melahirkan kecurigaan publik.
Dalam berbagai diskusi dan kajian, muncul dugaan bahwa teror yang berulang ini tidak berdiri sendiri. Ada indikasi kepentingan yang lebih besar baik politik maupun investasi, khususnya di sektor pertambangan—yang bermain di balik bayang-bayang konflik.
Di tengah derasnya isu ekspansi tambang, berkembang pula narasi bahwa hutan tidak lagi aman bagi masyarakat. Ketakutan itu perlahan menggiring opini bahwa satu-satunya solusi adalah membuka ruang bagi perusahaan untuk masuk. Hutan yang sunyi digantikan dengan deru ekskavator dan bulldozer. Sebuah logika yang patut dipertanyakan.
Akibatnya, rasa aman masyarakat runtuh. Dampaknya tidak hanya pada aspek psikologis, tetapi juga ekonomi. Aktivitas berkebun yang dulunya menjadi penopang hidup kini menurun drastis. Tanaman seperti cabai, tomat, dan kebutuhan harian lainnya yang sebelumnya bisa dipenuhi sendiri, kini harus dibeli.
Ketakutan telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap hutan. Dari tanah subur yang menyemai kehidupan, kini menjelma menjadi ruang menyeramkan bahkan tak ubahnya kuburan massal yang menyimpan trauma.


Tinggalkan Balasan