Oleh : M. Nofrizal Amir
(Dosen Ilmu Komunikasi UMMU)
Di zaman ini, barangkali kita perlu merevisi satu pepatah lama: bukan lagi “Mulutmu Harimaumu”, melainkan “Jempolmu Algoritmamu”. Sebab seekor harimau masih bisa dikurung, tetapi tangkapan layar, ah ia seperti hantu digital: tak terlihat saat lahir, tetapi gentayangan tanpa bisa diusir setelah dilepas.
Kisah tentang Aksandri Kitong adalah contoh kecil dari tragedi ini. Aksandri berada di posisi itu, di ruang yang menurutnya aman: grup WhatsApp DPC GAMKI Halmahera Utara. Sebuah ruang tamu digital, tempat Aksandri lupa bahwa dindingnya terbuat dari kaca satu arah.
Dalam istilah Michel Foucault (1977), ini menyerupai logika panoptikon: individu bertindak seolah tidak diawasi, padahal selalu berada dalam kemungkinan pengawasan.
Pada ruang digital yang semula terasa aman dan santai, Aksandri melontarkan satu bentuk “teori politik praktis”: “Baku Bunuh Saja” disertai anjuran agar keamanan “Los” dan penegasan bahwa “Tong Me Siap.” Lalu kalimat terakhir: “Supaya Dong Tau Bahwa Tong Me Siap.” Ujaran yang tampak spontan, banal, seolah tak akan meninggalkan jejak. Padahal setiap kata di ruang digital adalah arsip yang menunggu untuk dihidupkan kembali.
Masalahnya bukan pada kata-kata itu sendiri. Kata-kata hanya tanda, signifier dalam istilah semiotika yang memperoleh makna dari konteks sosialnya. Yang membuatnya berbahaya adalah ketika kita pura-pura, bahwa kata-kata itu tidak pernah hidup dalam diri kita.
Kita marah pada Aksandri bukan karena ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kita dengar, tetapi karena ia mengatakan sesuatu yang terlalu sering kita dengar, namun kali ini, terdokumentasi.
Warung kopi disekeliling kita, penuh dengan percakapan serupa. Teras rumah menyimpan arsip ujaran yang lebih kasar. Bahkan dalam ruang-ruang komunitas terbatas, diksi “Tong” dan “dorang” telah lama menjadi garis demarkasi yang tidak tertulis namun sangat operasional: kita versus mereka, identitas versus ancaman, solidaritas versus paranoia. Namun semua itu aman, karena tidak di screenshot.
Aksandri, dengan kata lain, bukan pelaku tunggal. Ia adalah kecelakaan semiotik. Ia adalah kebocoran dari sistem bahasa yang selama ini kita rawat secara kolektif. Ia hanya benar-benar sedang apes.
Dan jika boleh jujur, barangkali kita semua adalah Aksandri, dalam arti bahwa kita hidup, berbicara, dan berpikir dalam ekosistem yang sama. Kita menginternalisasi logika “Tong” versus “Dorang.” Kita mentoleransi kekerasan simbolik selama ia tidak diarahkan kepada kita. Kita tertawa pada ejekan, kita diam pada kebencian, dan kita terkejut ketika semua itu tiba-tiba menjadi skandal. Kita semua, sekali lagi adalah Aksandri, hanya belum menemukan momennya.


Tinggalkan Balasan